Pendidikan dan Budaya

Waktu kita berbicara tentang pendidikan maka kita akan berbicara sesuatu yang menyeluruh dan seimbang. Sebagai contoh, hak dan kewajiban. Sebagian orang mempermasalahkan urutan dari hak dan kewajiban. Terima hak dulu kemudian lakukan kewajiban atau lakukan kewajiban dulu kemudian nuntut hak. Ada juga yang membahas perbedaan porsi antara hak dan kewajban. Lakukan kewajiban sesedikit mungkin dan menuntut hak sebesar-besarnya atau sebaliknya. Kenyataannya ketidakseimbangan pendidikan hak dan kewajiban serta pelaksanaannya justru terjadi di area pendidikan. Langsung atau tidak langsung. Sebagai contoh, instruksi salah satu Gubernur (Kompas, Sabtu, 26 Mei 2012) untuk tidak menahan ijazah walaupun orang tua tidak melunasi biaya pendidikan di sekolah tersebut. Alasan dari instruksi ini adalah ijazah adalah hak siswa. Bagaimana dengan kewajiban siswa tersebut dan hak dari dari sekolah?

Pendidikan yang seimbang maupun tidak seimbang, setuju tidak setuju akan membawa pengaruh terhadap pola pikir dan budaya. Secara gamblang, suatu ajaran akan menjadi kebiasaan, kebiasaan akan menjadi budaya, dan budaya akan menjadi kebenaran. Jika kita memakai persamaan Matematika jika a = b dan b=c, maka a = c. Mari kita berharap ajaran yang diberikan adalah ajaran positif, maka akan muncul budaya positif. Tapi coba bayangkan ajaran yang diberikan adalah ajaran negatif, maka akan muncul juga budaya negatif. Ketidakseimbangan yang diajarkan di sekolah secara bertahap dan perlahan-lahan akan menciptakan ketidakseimbangan. Jangan heran jika suatu saat kita akan mendapati masyarakat yang kebanyakan mengeluh karena hak mereka tidak dipenuhi namun akan mencari-cari alasan untuk tidak atau terlambat membayar pajak.

Sebagai orang yang sehari-hari berada di sekolah, dengan siswa, guru, serta karyawan sebagai masyarakat dalam lingkup kecil, saya mendapati bahwa kita dapat membaca perilaku masyarakat sekitar bahkan kondisi sikap dari daerah tersebut dari memperhatikan pola dan sikap para siswa. Sebagai contoh, suatu saat diadakan kegiatan yang disponsori oleh salah satu produsen minuman. Mereka membagikan minuman secara gratis dan dalam jumlah yang berlimpah. Reaksi pertama siswa adalah berebutan takut tidak kebagian dan mengambil dalam jumlah yang tidak wajar. Kenyataannya masyarakat sekitar juga berlaku sama, mereka berebut makanan saat jamuan makan. Mungkin akan sangat wajar jika jamuan makan itu terjadi di daerah yang ditimpah kelaparan dan paceklik atau di daerah pengungsian, namun keadaan ini terjadi pada saat makanan melimpah. Agak memalukan.

Sering juga saat guru menegur siswa, maka siswa akan mulai menyebutkan siswa lain yang juga berkelakuan sama. Teguran merupakan bagian dari didikan, yang diharapkan siswa dapat refleksi dan menyadari kesalahan dan mengambil tindakan untuk berubah. Mencari teman, itulah keadaan siswa saya. Kita berbicara kenyataan lagi, Menlu kita juga berlaku sama. Saat proses sidang sesi ke-13 kelompok kerja UPR untuk Indonesia di dewan HAM PBB. Indonesia dicerca soal isu kebebasan beragama dan berpendapat, maka Menlu mulai mengambil tindakan “mencari teman” (Kompas, Sabtu, 26 Mei 2012, hal. 9). Respon yang wajar memang, siapa si yang pengen jadi pesakitan sendirian?

Kembali lagi kepada masalah ajaran dan budaya, tidak semua ajaran akan menjadi budaya, masih ada faktor lain, antara lain pengaruh ajaran dan oknum yang memegang ajaran tersebut. Oknum yang memegang suatu ajaran bisa saja berhasil mempengaruhi sehingga ajaran tersebut menjadi budaya, atau tersingkir oleh ajaran lain, atau mungkin juga dia akan berdiri sendirian memegang ajaran tersebut.

Jika sekolah dan budaya yang dibangun di dalamnya tidak dapat memengaruhi budaya masyarakat, maka budaya yang ada di masyarakat yang akan memengaruhi budaya sekolah tersebut. Tulisan ini tidak mengatakan bahwa budaya di sekolah lebih baik daripada budaya di masyarakat atau sebaliknya, namun harapan yang tertinggal adalah semoga budaya yang memengaruhi budaya yang lain adalah budaya yang lebih baik.

Salam

Bersyukur

Kata bersyukur sering sekali menjadi topik dan saran dari para motivator, baik motivator rohani maupun motivator umum. Bersyukur dan berpuas diri adalah dua kata yang memiliki makna yang sangat jauh berbeda. Kali ini saya tidak akan membahas tentang definisi bersyukur dan berpuas diri, perbedaannya, ataupun bagaimana bersyukur. Kali ini saya akan membahas lawan berat dari bersyukur, yaitu tidak bersyukur. Tidak bersyukur saya definisikan sebagai bentuk ketidakpuasan atas capaian atau keadaan yang terjadi, hal ini disertai ketidakmampuan melihat hal baik dalam hidup. Dengan kata lain tidak bersyukur saya ringkas dalam kata “tidak tahu berterima kasih”.

Berikut ini adalah penyebab tidak berterima kasih:

  1. Kepahitan, banyak sekali definisi kepahitan, di sini saya mendefinisikan kepahitan sebagai akumulasi sakit hati yang tidak sembuh. Kepahitan mengakibatkan hilangnya sense of trust dalam diri seseorang, yang muncul adalah rasa curiga berlebihan. Ketidakhadiran sense of trust mengakibatkan seseorang menganggap segala bentuk kebaikan itu adalah perangkap.
  2. Perubahan kondisi hidup, sebagai contoh, seseorang yang awalnya susah kemudian menjadi kaya, dan secara tragis menjadi susah lagi. Tidak semua orang yang menghadapi hal tersebut menjadi tidak tahu bersyukur. Ketidaksiapan mengalami perubahan itulah yang menjadikan seseorang menjadi tidak bersyukur.
  3. Rasa mampu melakukan segala sesuatu, dalam keadaan ini seseorang merasa mampu melakukan segala sesuatu dan memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain, bahkan bantuan Tuhan.

Ada sebab, ada akibat. Jika ada penyebab seseorang tidak berterima kasih maka ada juga akibat tidak berterima kasih.

  1. Mengeluh sepanjang waktu. Tiap hal yang terjadi dengan pasti selalu diikuti dengan keluhan. Keluhan di tiap hal. Sadar atau tidak terlalu banyak mengeluh membuat orang lain tidak tahan berdekatan dengan kita.
  2. Kehilangan kemampuan untuk melihat hal indah dalam hidup, hal ini disebabkan pemikiran yang menganggap semua hal itu salah.
  3. Hilangnya kemampuan untuk menghargai orang lain, bahkan menghargai karya Tuhan dalam hidup. Beberapa teman menamakan akibat ini dengan “tidak bisa lihat orang lain senang/sukses”
  4. Susah membangun sebuah hubungan. Akibat yang ke-4 ini merupakan akumulasi dari akibat 1, 2, dan 3. Hubungan yang dimaksud adalah semua hubungan yang bisa dibangun. Hubungan persahabatan, tetangga, pacaran, suami-istri, bahkan hubungan dengan Tuhan.

Tidaklah bijak jika kita hanya membicara penyebab dan akibat, namun tidak memberi jalan keluar bagi permasalahan tersebut.

Cuma ada satu cara untuk mengatasi tidak bersyukur yaitu dengan bersyukur.

Jika terjadi…..

Apapun terjadi dalam hidup kita, maka kita akan bereaksi/berespon. Hal ini merupakan hal yang wajar. Dalam ilmu Fisika ini disebut aksi-reaksi. Reaksi atau respon yang kita berikan beragam. Reaksi keras biasanya muncul jika sesuatu yang terjadi tidak sesuai dengan “keinginan” kita, terutama jika sesuatu itu adalah tanggungjawab kita.

beberapa respon yang muncul jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan:

  1. Pura-pura tidak tahu, tidak mau ambil tanggung jawab. seolah-olah hal tersebut tidak terjadi. Orang yang berekasi seperti ini harus dipertanyakan hati nuraninya…
  2. Mencari kambing hitam. menyalahkan orang lain, atau keadaan bahkan Tuhan. Reaksi ini paling sering terjadi karena seolah-olah membuat kita dihadapan orang lain telah melakukan hal yang benar. Jadi, hal buruk terjadi itu karena kesalahan orang lain.
  3. Menyalahkan diri sendiri. Hal ini biasanya terjadi jika kita merasa bertanggung jawab atas semua ketidak benaran, meski itu bukan tanggung jawab kita. Hal ini berbahaya karena dapat menyebabkan frustasi, bahkan bunuh diri.
  4. Instropeksidiri. Reaksi inilah yang kami sarankan untuk dilakukan. Melihat kepada penyebab kejadian tersebut, namun pertama-tama melihat kepada diri sendiri, kemudian kepada faktor-faktor yang lain, serta mencari jalan keluar.

Kedewasaan seseorang kadang bahkan sangat sering dinilai dari cara bereaksi atau berespon terhadap masalah.

selamat berespon….

UAS Matematika Kelas V

Silahkan di lihat2….

Semoga bermanfaat…

EVALUASI HASIL BELAJAR AKHIR SEMESTER II 2

Jangan lupa comment ya…

Tujuan Pendidikan kita

Apa tujuan pendidikan kita? Apa tujuan persekolahan kita? Apa tujuan kita mengajar?
Kebanyakan dari kita mungkin akan menjawab dengan “meluluskan siswa dengan nilai baik” atau mungkin ada juga yang akan menjawab tujuan dari tiga pertanyaan di atas adalah untuk memaksimalkan setiap potensi yang dimiliki oleh siswa untuk kebaikan siswa itu sendiri, keluarganya, bahkan untuk kemakmuran bangsa dan Negara.
Kita tidak bisa bersikap apatis dan menganggap semua orang akan menjawab dengan jawaban yang ada di atas. Mau tidak mau beberapa pihak akan menjawab bahwa tujuannya adalah untuk meluluskan semua siswa dan menciptakan siswa “berprestasi” bagaimanapun caranya untuk mendapatkan penghargaan dan pujian dari pihak-pihak tertentu. Dan tujuan akhir dari tujuan ini adalah untuk menarik minat orang tua agar mendaftarkan anaknya di sekolah tersebut.
Mungkin ada juga guru yang menjawab bahwa tujuannya mengajar adalah untuk mendapatkan predikat “berprestasi” dan diperhitungkan banyak pihak. Dengan menyampingkan etika pendidikan dan metode pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhkan siswa itu sendiri.
Masih banyak rumusan tujuan pendidikan/pengajaran. Bahkan tiap sekolah dan tiap guru mungkin memiliki rumusan tujuan pendidikan/pengajaran mereka. Para pemerhati dan praktisi pendidikan akan memilih tujuan pendidikan/pengajaran yang lebih memperhatikan kebutuhan siswa, namun tidak dipungkiri bahwa ada juga yang bertujuan untuk keuntungan pribadi.
Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah ada oknum yang pendidikan/pengajaran/persekolah itu ditujukan?

quo Vadis?

Quo Vadis Pendidikan Indonesia?

Pertanyaan ini terus menggelitik kepala saya sejak saya mulai bergelut Gambardalam dunia pendidikan. Ada beberapa alasan pertanyaan tersebut mengikuti saya hampir setiap hari, pada saat mengajar maupun pada saat sedang mempersiapkan pembelajaran bahkan pada saat hendak beristirahat malam. Alasan yang pertama, pertanyaan tersebut merupakan tema dari sebuah seminar pendidikan yang saya hadiri pertama kali sejak saya melanjutkan kuliah di Jakarta. Dr. Steven Tong pembicara tunggal diseminar tersebut. Jangan tanya apa isi seminar tersebut karena saya benar-benar tidak memperhatikan seminar tersebut. Alasan kedua, karena keunikan kata QUO VADIS tersebut. Dua kata yang saya tidak mengerti terjemahan secara khusus, namun sering digunakan untuk mempertanyakan tujuan sesuatu, baik kegiatan atau hubungan.
Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan dan terus dikembangkan para ahli pendidikan kita? Apa sebenarnya yang kurnag dari pendidikan kita di Indonesia? Bukankah nilai UN sudah sangat tinggi? Bukankah sekolah-sekolah bahkan kementerian pendidikan daerah mampu meluluskan 100% siswanya? Kecuali mungkin jika ada siswi yang hamil sebelum Ujian Nasional dan dilarang ikut UN. Beberapa orang/pihak mempertanyakan tujuan UN yang sebenarnya, bahkan ada yang menganggap UN hanyalah dagelan pihak-pihak tertentu. Toh, kita masih butuh UN untuk standarisasi pencapaian sekolah. Jika untuk lulus standarisasi saja masih ada manipulasi, bisa kita bayangkan jika tidak ada standarisasi.
Apalagi yang kita pusingkan dengan pencapaian siswa di sekolah-sekolah, toh nilai raport siswa-siswa kita rata-rata di atas 75. Sengaja atau tidak nilai 75 di raport akan membantu siswa untuk lulus, jika nilai UN mereka kecil. Pernahkah kita mendapati orang tua yang protes jika anaknya memperoleh nilai matematika 80 atau 90 di raport, sedangkan untuk siswa SMA menghitung 3×4 saja dibutuhkan waktu 30 menit? Kurikulum apalagi yang kita butuhkan, bukankah tiap tahun 100% siswa kita naik kelas, walaupun sudah kelas 6 SD belum bisa membaca? Toh, tidak ada orang tua atau pegawai Kementrian Pendidikan yang diwakili pengawas yang protes.
Kenapa para guru jadi risau ada siswa yang datang sekolah tidak mandi atau sarapan? Orang tua mereka saja tidak peduli. Kenapa guru repot-repot menuntaskan pembelajaran di kelas? Anak-anak yang seharusnya tidak naik kelaskan punya cara untuk naik kelas, yaitu pindah sekolah. ancaman pindah sekolah adalah senjata yang betul-betul ampuh untuk menakuti kepala sekolah yang takut kehilanga siswa, yang artinya kehilangan beberapa ratus ribu rupiah dari dana BOS. Kenapa guru perlu memberi pelajaran tambahan atau after school untuk siswa yang secara akademik kurang mampu? Bukankah prestasi seorang guru dan sekiolah ditentukan oleh beberapa anak yang mampu menjuarai olimpiade sains atau olimpiade matematika. Kenapa guru jadi sibuk “ceramah” tentang hal yang baik dan tidak baik? Bukankah alumni yang jadi koruptor besar bahkan jadi teroris masih bisa dibangga-banggakan.
Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Jika yang memperkenalkan kurikulum anti korupsi adalah koruptor kelasa kakap? Jika kita lebih mengutamakan penampilan dibandingkan anak mampu mencapai tujuan belajar? Jika kita masih sering meninggalkan kelas untuk bergosip, sedang anak-anak tidak terkontrol? Jika kita mengharapkan siswa tepat waktu sedangkan kita sendiri yang tidak bisa tepat waktu?
Omong kosong yang saya tuliskan di atas membuat saya ketakutan, apakah kita memang mempunyai tujuan pendidikan yang kira-kira bisa membawa perubahan? Atau kenyataan yang ada sekarang adalah capaian tertinggi dari pendidikan kita?
Mari kita evaluasi diri kita, baik kita sebagai pemerintah, orang tua, guru, kepala sekolah, pemerhati pendidikan dan kita tetapkan tujuan pendidikan kita. Dan kita berubah kepada tujuan tersebut, bukan lagi berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang pada kenyataannya tidak membawa kita kemana-mana. Pendidikan merupakan perubahan secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia, bukan hanya pada penampilan. Perubahan terjadi juga pada tatanan dan kebudayaan yang akan tercipta.

Filsafat pendidikan

Dalam memahami pendidikan Kristen saya menggunakan tiga dimensi panggilan umat Allah yang dikemukan oleh Wolterstorff ; pertama, panggilan untuk memberitakan injil. Kedua, panggilan untuk bekerja demi damai sejahtera (shalom) dan demi pembebasan dari segala sesuatu yang menindas dan menekan. Ketiga, panggilan untuk menyaksikan damai sejahtera dalam kehidupan (Wolterstorff, 2007, 49).
Pendidikan pada dasarnya adalah beban orang tua atau keluarga bagi setia anggota keluarga yang ada didalamnya, kemudian beranjak,tapi tidak mengalihkan dari keluarga, menjadi tanggung jawab masayarakat. Manusia sebagaimana disaksikan Alkitab adalah gambar dan rupa Allah, dan gambaran ini telah rusak oleh kejatuhan manusia. Penting untuk dicatat bahwa meskipun ketika gambar dan rupa itu telah retak dan sangat menyimpang, ia belum hancur (Knight, 2009, 248).
Mengembalikan gambaran Allah dalam diri tiap anak adalah peranan tiap orang tua. Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memberikan pembinaan untuk mempersiapkan anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, seperti yang terdapat dalam Ulangan 6:4-7, Amsal 1:8, Kolose 3:16.
Pengenalan sifat dasar seorang anak atau murid akan berpengaruh besar kepada cara seorang guru memandang murid dan cara dia bekerja dalam kelas, belajar dan memandang hasil pembelajaran. Alkitab tidak memberikan perintah khusus berkenaan dengan peran guru dan sekolah, karena itu guru hanya menggantikan tempat orang tua orang tua selama jam-jam sekolah (in loco Parentis).
Karya Kristus adalah rekonsiliasi, mengembalikan gambar dan rupa yang telah rusak ini. Pendidikan merupakan salah satu jalan Allah untuk mengenalkan Kristus yang mengembalikan gambaran rupa Allah dalam setiap orang yang terlibat dalam pendidikan. Inilah alasan panggilan untuk memberitakan Injil.
Umat Alah dipanggil untuk berupaya agar manusia dapat hidup selaras dengan dirinya sendiri, sesama, alam, dan terutama dengan Allah (Knight, 2009, 53). Pendidikan adalah salah satu upaya penyelarasan yang dimaksud di atas. Kebodohan, kemiskinan adalah belenggu yang harus diupayakan sehingga dapat terbebas darinya. Pendidikanlah yang akan berperan penting di persiapan, pelaksanaan dan pasca pembebasan belenggu-belenggu.
Pendidikan tidak diartikan juga penyeragaman budaya, yang akhirnya merujuk kepada tradisi, kebiasaan, perilaku, pola pandang budaya tertentu. Penyeragaman budaya menurut saya adalah penyimpangan dari pendidikan itu sendiri.
Bagian ketiga dari dimensi panggilan umat manusia, saya artikan sebagai implementasi dari hasil pendidikan yang sudah dan sedang berlangsung. Menyaksikan keselarasan dan damai sejahtera adalah tujuannya, implementasi ilmu pengetahuan adalah penyertaan dari tujuan utama tersebut. Lebih lugas saya katakana bahwa tujuan ketiga pendidikan adalah untuk membentuk karakter dari dampak keimanan yang diimplementasikan dalam kehidupan.

Referensi
Brumellen, Harro Van. Batu Loncatan Kurikulum:Berdasarkan Alkitab. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press, 2008.
Wolterstorff, Nicholas P. Mendidik Untuk Kehidupan : Refleksi Mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen. Jakarta: Penerbit Momentum, 2007.