Gambar Allah dan Nature Dosa

Hal yang menarik untuk mengetahui sifat dasar atau di beberapa tulisan dikatakan sebagai pembawaan moral anak menurut apa yang Alkitab katakan, ditengah teori yang dikemukakan banyak ilmuan, misalnya, teori empirisme yang dikemukakan John Lock “seseorang lahir seperti kertas putih yang tidak bercelah”, kemudian teori Nativisme, yang dikemukakan schopenheur “sifat manusia adalah bawaan alami dan faktor eksternal tidak berpengaruh banyak”, dan beberapa teori yang lainnya.
Sebagai Orang Kristen yang percaya akan otoritas kebenaran Alkitab, maka teori-teori tersebut haruslah diuji berdasarkan Alkitab dan merivisinya sesuai dengan Alkitab dan kebenarannya. Sifat dasar anak dan pemeliharaannya dapat dilihat dari tiga bagian: penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Kita tidak akan membahas secara terpisah tapi menurut gambaran besarnya saja.
1. Setiap anak adalah gambar dan rupa Allah. Anak merupakan ciptaan Allah, yaitu manusia seutuhnya, pancaran akan Kemuliaan dan keagungan Allah telah ada di setiap anak sejak ia lahir sekalipun. Semua anak mempunyai nilai dan martabat, bukan karena aktualisasi diri, melainkan karena ia adalah ciptaan Tuhan. Hal ini menjelaskan bahwa tiap anak adalah “baik”. Kita perlu mencari kebaikan itu di dalam diri tiap anak dan memeliharahnya” (fennema, p.17).

2. Setiap anak dilahirkan dengan nature dosa dan membutuhkan penebusan dalam Kristus. Menyadari hal ini kita sebagai orang tua atau orang yang ada disekitar anak harus terus berusaha mendekatkan si anak kepada pengenalan akan Kristus. Hal ini mengimplikasikan bahwa setiap anak punya dasar “buruk atau dosa”. Seekor singa akan tetap disebut binatang buas walaupun dia tidak membunuh. Pertumbuhan rohani yang terus menerus bertumbuh adalah hal yang esensial dari perkembangan seorang anak. Keberdosaan, yang diperoleh bukan karena apa yang telah dan akan dilakukannya, membuat kita tidak dapat mengharapkan seorang anak melakukan hal yang baik-baik saja.
Mengembalikan gambaran Allah dalam diri tiap anak adalah peranan tiap orang tua, yang merupakan penerima mandat dari Allah untuk mengenalkan Sang Pemulih dan Penebus Agung, yaitu Kristus. Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memberikan pembinaan untuk mempersiapkan anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, seperti yang terdapat dalam Ulangan 6:4-7, Amsal 1:8, Kolose 3:16.

Pengenalan sifat dasar seorang anak atau murid akan berpengaruh besar kepada cara seorang guru memandang murid dan cara dia bekerja dalam kelas, belajar dan memandang hasil pembelajaran. Alkitab tidak memberikan perintah khusus berkenaan dengan peran guru dan sekolah, karena itu guru hanya menggantikan tempat orang tua orang tua selama jam-jam sekolah (in loco Parentis). Hal ini berarti tangung jawab membina murid untuk mengembalikan gambaran sebenarnya seorang itu diciptakan dan pengenalan akan Sang Penebus dan Pemulih itu juga menjadi tangguang jawab seorang guru, dalam hal ini kita berbicara tentang guru Kristen.

Guru harus sangat mengerti bahwa muridnya adalah gambar dan rupa Allah, sikap menghargai dan menyadari martabat yang mereka punyai, tercermin dari pandangan, perkatakaan dan sikap guru kepada muridnya. Mengerti bahwa murid-muridnya mempunyai natur dosa, jadi, pada saat murid-murid melakukan kesalahan, guru mengerti bahwa itu adalah bagian dari keberdosaannya, mengingatkan dan memperbaiki dengan penuh ketulusan dan berdasar kasih Allah yang kekal.

Dalam menjalankan peranan ini dan agar tujuan yang penggenapan mandat tersebut, maka dibutuhkan kerjasama dan komunikasi yang sehat antara orang tua sebagai penerima mandate, guru dan si anak. Salah satu dari bagian ini tidak berjalan, akan terjadi ketimpangan. Contoh, seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang sering melakukan tindak kekerasan baik kepada sesama orang tua maupun kepada sang anak. Anak tersebut kemungkinan besar akan tumbuh, tidak menghargai orang lain, kemungkinan juga akan melakukan tindak kekerasan terhadap orang lain.

Gurulah yang menjadi bagian yang harus menyatakan kasih dan mengajarkan sifat dasar yang dipunyai setiap manusia, yaitu serupa dan segambar Allah. Menggantikan tempat orang tua selama jam-jam pelajaran, bukan berarti melakukan hal yang sama yang dilakukan orang tua anak di rumah, namun melakukan hal yang sesuai dengan kebenaran Alkitab dan mengacuh pada sifat dasar anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: