KEKUATAN BERSYUKUR

Keinginan untuk berubah dari pikiran dan kelakuan yang tidak sesuai dengan jalan yang ditentukan Allah, sudah begitu lama muncul dalam hati saya. Berbagai hal sudah saya lakukan dan coba. Mencoba dan terus menco

ba tanpa mengerti dasar mengapa harus berubah dan dengan kekuatan apa, pertanyaan itu yang berputar-putar dikepala saya. Sering sekali gagal, membuat saya merasa mustahil berubah.

Pergumulan terberat dalam hidupku yang pernah ada, yaitu kepercayaan diri, selalu merasa rendah diri dan merasa tidak mampu melakukan apa-apa yang berguna. Dibidang apapun yang saya geluti, tidak satu bidangpun saya merasa punya keahlian lebih dari yang lain. Suatu hari seorang teman yang bercerita tentang tantangan yang dia hadapi ditempat kerjanya yang baru, diakhir cerita sukses dia, dia berkata “aku bisa melakukan semua ini karena ingat kamu (ismail) yang tidak pernah mau menyerah saat menghadapi tantangan”. Saya benar tidak peduli dengan perkataan yang sebenarnya bisa membangkitkan semangat dan kepercayaan diri saya. Kemudian, muncul pertanyaan baru lagi,”apakah saya ini tidak mampu, punya standar yang sangat tinggi atau orang yang tidak mampu bersyukur?”.

 

Pada kuliah “creative living” saat belajar tentang pengenalan akan Allah, saya tersadar betapa saya tidak mengenal diri saya sendiri, Allah merancang setiap hal dalm hidupku begitu indah dan saya begitu indah dimata Allah. Saat orang lain terinspirasi terhadap prinsip yang saya pegang teguh dan menghasilkan perubahan yang luar biasa, sebenarnya orang tersebut sedang melihat karya Allah yang tak terukur. Akhirnya, dengan kekuatan dari Allah sendiri yang memperkenalkan diriNya, aku belajar bersyukur dan mencoba terus menggali potensi yang ada pada diriku, yang dapat dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan. Saya menyebutnya “kekuatan bersyukur” inilah yang memperlihatkan perubahan dalam hidupku terutama tentang kepercayaan diri. Bersyukur senantiasa dan mulai mengurangi keluhan-keluhan yang selama ini ku anggap sebagai kritik atas ketidaksesuaian dengan sistem yang seharusnya, memberi kekuatan berlipat untuk mengahapi kuliah yang makin lama makin terasa berat dan seolah-olah tidak seorang manusiapun yang mampu melewatinya.
Saya sangat tertarik dengan ayat yang pernah dibaca di kelas “creative living” dari Yeremia 1:5, ayat ini seolah-olah berkata khusus kepada saya tentang betapa berharganya aku sebagai anak Allah, yang telah ditebus dengan korban Kristus, bahkan Allah telah memperhatikan sebelum bapak dan ibu merencanakan untuk punya anak yang keempat, yaitu aku. Siapakah yang dapat membayangkan dikenal sebelum diletakkan didalam rahim? Hal itu seperti memikirkan hal yang tidak akan pernah ada, tapi bagi Allah hal tersebut adalah perkara kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: