filsafat kristen menurut gw

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Pendidikan berfungsi menciptakan sumber daya manusia yang handal dan berintegritas tinggi.. Pendidikan Kristen bertujuan untuk membawa setiap setiap murid kepada pendamaian dengan Allah dan rekonsiliasi tiap hari, selain itu membawa perubahan pikiran.
Untuk menciptakan pendidikan yang baik, perangkat pendidikanpun harus berkualitas dan guru merupakan faktor yang sangat signifikan. Cara pandang dan filosopi pribadi yang benar merupakan bpegangan dalam mengajar. Pegangan yang benar akan membuat kita tetap bertahan dimasa-masa yang sulit, masa-masa dimana segala sesuatunya dipertanyakan keabsahannya. Dalam paper ini akan dibahas pandangan pribadi penulis tentang beberapa elemen filsafat, serta kaitannya dengan praktek pendidikan.

Metafisika merupakan cabang filsafat yang mencoba menjawab pertanyaan tentang apa sesungguhnya nyata secara esensi.

Theology
Di tengah banyaknya pertanyaan tentang ada tidaknya Tuhan atau tentang keterlibatan Tuhan secara nyata dalam kehidupan manusia dan kemuakan banyak kalangan akan teori tentang Tuhan yang dikemukakan oleh agama-agama di dunia yang ternyata tidak terlihat secara nyata dampaknya, bahkan orang-orang yang mengaku beragama malah melakukan hal yang paling mengerikan. Teror, korupsi, suap, dan banyak hal lainnya justru dilakukan oleh pemuka-pemuka agama. Kepercayaan terhadap Tuhan sangat-sangat diuji. Kepada Tuhan yang mana yang kita percayai? Siapa sebenarnya Dia? Apa yang sebenarnya yang dilakukanNya?
Pertanyaan metafisika tentang Tuhan, mempunyai jawaban yang sangat beragam. Sebagai orang Kristen, kenyataan akan keadaan Tuhan adalah sangat benar. Meskipun kita mengeluarkan Tuhan dari Teori agama manapun, Tuhan ternyata sangat eksis keberadaanNya. Allah adalah kenyataan yang benar-benar benar dan bahkan teori tentang penentangan kebenaran Allahpun mulai berjatuhan. Allah dalam Yesus Kristus adalah sumber dari segala sesuatunya, bahkan dikatakan bahwa Allah adalah sumber kehidupan (Yeremia 17:13), bahkan dikatakan dalam II korintus 1:3 bahwa Allah adalah sumber penghiburan. Tidak satupun hal yang ada dalam dunia ini yang berada di luar karya penciptaan Allah dan selalu dalam pengaturan yang Maha kuasa, dalam Yohanes 1:3 dikatakan bahwa tanpa Firman tidak satu dari segala sesuatu dijadikan.
Yohanes 1:1-14 menyatakan bahwa Firman yang adalah Yesus adalah Allah, telah menjadi manusia dan hadir bersama manusia. Allah yang telah hadir menyatakan Diri sebagai Anak Allah untuk menyatakan Personal Allah, mengajar tentang kebenaran Injil, serta menebus manusia dari dosa. Melalui karyaNya ini manusia dapat diperdamaikan dengan Allah. Yesus, Sang Anak Allah, menyatakan bahwa tidak seorangpun yang dapat sampai kepada Bapa, tanpa melalui Dia (Yohanes 14:6). Tidak seorangpun dapat sampai kepada Allah tanpa melalui Allah.

Antropologi
Saat ini nilai seorang manusia sangat-sangat tidak dianggap oleh kalangan tertentu bahkan dapat dikatakan hampir setiap orang memandang sesamanya lebih rendah dari dirinya sendiri. Kasus mutilasi yang kian ramai, perbudakan, rasisme, terror bom, bom bunuh diri, perang Afganistan dan Irak, peristiwa 9/11, out sourcing, holocaust, dan banyak lagi yang lainnya. Manusia tidak lagi melihat siapa dirinya dan orang lain.
Alkitab memberitahu kita, siapa kita pada hakikatnya. Kejadian 1:26 menceritakan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai Gambar dan Rupa Allah sendiri. Allah yang adalah Kenyataan yang benar-benar itu menciptakan kita dan sesama kita serupa dan segambar denganNya. Semua manusia adalah sama, didalam karya penciptaan Allah. Tidak seorangpun yang lebih tinggi atau lebih rendah. Dalam peristiwa kejatuhan manusia kedalam dosa mengakibatkan semua manusia semua manusia berdosa (Roma 5:12) dan juga dikatakan dalam Roma 3:23 bahwa SEMUA manusia telah berbuat dosa. Kita, semua manusia, mempunyai status yang sama, yaitu berdosa. Kita semua menmpunyai 2 (dua) sifat dasar : Gambar dan Rupa Allah dan mempunyai natur dosa. Manusia tetap menyandang gambar Allah, namun menyimpang fungsinya.
Dari penyimpangan tersebut akhirnya kita, manusia, tidak dapat menjalankan mandat Allah terhadap ciptaan yang lain. Allah dalam Kejadian 1:28-30 Allah memberikan mandat kepada manusia untuk memelihara ciptaan yang lain. Karena dosa mandat inipun menjadi menyimpang. Manusia malah menjadi perusak Alam.
Dalam Kristus manusia telah ditebus dan dikembalikan kepada Gambar Allah yang sesungguhnya, pemulihan ini akan berlangsung terus-menerus, hingga total sempurna saat pemuliaan yang ada dalam waktuNya Allah sendiri. Orang percaya diberi tugas untuk memberitakan kebenaran Injil, Injil yang akan mengembalikan gambar Allah dalam manusia dan menyatakan kemuliaan Allah.

Epistimologi
Pertanyaan tentang kebenaran, menjadi hal yang menarik sekaligus sangat sulit untuk menemukan jawaban yang pasti. Masing-masing bidang pengetahuan menyatakan kebenarannya masing-masing, namun apakah kebenaran terpisah-pisah? Kita hidup dalam dunia yang adalah ciptaan Allah, sesuai dengan yang saya percaya, maka kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta dunia ini. Epistimologi yang oleh beberapa ahli filsafat mendefinisikannya sebagai pencarian kebenaran di dalam kebenaran pengetahuan dan menempatkan pengetahuan dan kebenaran itu dalam posisi yang seharusnya. Kebenaran tersebut harus mempunyai sumber yang secara asumsi dapat diterima dan dipercaya kemudian teruji validitasnya.
Nilai kebenaran tidak dapat kita lepaskan dari apa yang kita anggap benar. Segala ilmu penegetahuan adalah benar menurut ahlinya masing-masing. Namun apakah hal tersebut benar menurut kita orang percaya? Alkitab merupakan otoritas tertinggi yang menceritakan kebenaran Allah dan karyaNya. Alkitab bersumber dari Pewahyuan Allah sendiri,tidak terdapat kontradisi, menjawab tidak hanya satu persoalan, unsur-unsur yang ada di dalamnya saling berkaitan, dan snagat sesuai dengan kenyataan empiris. Berdasar pengujian teori tersebut Alkitab adalah kebenaran. Tidak hanya samapai disitu saja, Alkitab sebagai otoritas Allah, saya percayai sebagi penguji kebenara-kebenaran yang lainnya. Alkitab sebagai cara Allah untuk menyampaikan pewahyuanNya, segala kebenaran ilmu pengetahuan haruslah diuji berdasar kebenaran Alkitab. Hal ini tidak menyatakan bahwa segala kebenaran dapat kita temukan secara harafiah dalam Alkitab, namun tidak ada satupun kebenaran yang lepas dari kerangka berfikir Alkitab. Alkitab “tidak” dapat dibuktikan melalui metode-metode pengujian epistimologi yang lain. Iman merupakan alat uji utama dan landasan utama dalam pengujian kebenaran, perhatikan Ibrani 11:1. Segala gagasan dalam ilmu pengetahuan atau suatu kebenaran melalui akal (rasio) yang tidak sesuai dengan Firman Allah, tidak dibenarkan dan tidak akan dibenarkan (Situmorang, 2004, P. 101)

Axiology
Aksiologi berusaha menjawab apa yang disebut bernilai. Nilai yang akan atau tidak akan diaktualisasikan akan dicoba dijawab disistem ini, karena ini adalah pemikiran atau konsep yang paling dekat dengan ucapan dan tindakan manusia.

Etika
Isu tentang moralitas merupakan isu utama dalam kehidupan kita. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh berbagai kalangan untuk menuniversalkan nilai etika, atau paling tidak nilai tersebut berlaku dalam satu Negara, misalnya RUU Pornografi, UU anti pelacuran, dan lain sebagainya. Rancangan maupun undang-undang tersebut merupakan usaha manusia memperbaiki nilai moral di Negara kita. Namun ternyata tidak semudah undang-undang dirancang dan ditetapkan.
Teori etikalah yang menyediakan nilai yang benar sebagai titik tolak tindakan yang benar. Saya pecaya bahwa Alkitab adalah landasan yang benar yang menyediakan nilai moralitas yang benar pula. Dapatkah nilai moralitas Alkitab bersifat universal, kebenaran yang diungkapan oleh Alkitab tidak dapat dibantahkan oleh teori hukum yang lain, di sini saya bertiti tolak pada nilai esensi dari Alkitab, bukan penerapan oleh orang-orang Kristen. Galatia 5:16-26 menjelaskan tentang nilai-nilai yang tidak sesuai dengan keinginan Allah, kemudian dijelaskan juga pola hidup yang berkenan, ayat yang ke 22-23 menyatakan bahwa tidak ada satu hukumpun yang menentang nilai-nilai etika Alkitab. Kesimpulannya di bagian ini adalah etika universal adalah etika menurut Alkitab.

Pendekatan yang berbeda dalam menjawab pertanyaan-pertanyan ajaran-ajaran filsafat juga menimbulkan pendekatan yang berbeda dalam teori dan praktek pendidikan.

Sifat Dasar Siswa
Sifat dasar anak dapat dilihat dari tiga bagian: penciptaan, kejatuhan dan penebusan. Kita tidak akan membahas secara terpisah tapi menurut gambaran besarnya saja.
1. Setiap anak adalah gambar dan rupa Allah. Anak merupakan ciptaan Allah, yaitu manusia seutuhnya, pancaran akan Kemuliaan dan keagungan Allah telah ada di setiap anak sejak ia lahir sekalipun. Semua anak mempunyai nilai dan martabat, bukan karena aktualisasi diri, melainkan karena ia adalah ciptaan Tuhan.

2. Setiap anak dilahirkan dengan natur dosa dan membutuhkan penebusan dalam Kristus. Menyadari hal ini kita sebagai orang tua atau orang yang ada disekitar anak harus terus berusaha mendekatkan si anak kepada pengenalan akan Kristus. Hal ini mengimplikasikan bahwa setiap anak punya dasar “buruk atau dosa”. Pertumbuhan rohani yang terus menerus bertumbuh adalah hal yang esensial dari perkembangan seorang anak. Keberdosaan, yang diperoleh bukan karena apa yang telah dan akan dilakukannya, membuat kita tidak dapat mengharapkan seorang anak melakukan hal yang baik-baik saja.

Peranan Guru
Mengembalikan gambaran Allah dalam diri tiap anak adalah peranan tiap orang tua, yang merupakan penerima mandat dari Allah untuk mengenalkan Sang Pemulih dan Penebus Agung, yaitu Kristus. Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memberikan pembinaan untuk mempersiapkan anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, seperti yang terdapat dalam Ulangan 6:4-7, Amsal 1:8, Kolose 3:16.
Pengenalan sifat dasar seorang anak atau murid akan berpengaruh besar kepada cara seorang guru memandang murid dan cara dia bekerja dalam kelas, belajar dan memandang hasil pembelajaran. Alkitab tidak memberikan perintah khusus berkenaan dengan peran guru dan sekolah, karena itu guru hanya menggantikan tempat orang tua orang tua selama jam-jam sekolah (in loco Parentis). Hal ini berarti tangung jawab membina murid untuk mengembalikan gambaran sebenarnya seorang itu diciptakan dan pengenalan akan Sang Penebus dan Pemulih itu juga menjadi tangguang jawab seorang guru, dalam hal ini kita berbicara tentang guru Kristen.
Guru harus sangat mengerti bahwa muridnya adalah gambar dan rupa Allah, sikap menghargai dan menyadari martabat yang mereka punyai, tercermin dari pandangan, perkatakaan dan sikap guru kepada muridnya. Mengerti bahwa murid-muridnya mempunyai natur dosa, jadi, pada saat murid-murid melakukan kesalahan, guru mengerti bahwa itu adalah bagian dari keberdosaannya, mengingatkan dan memperbaiki dengan penuh ketulusan dan berdasar kasih Allah yang kekal.
Dalam menjalankan peranan ini dan agar tujuan yang penggenapan mandat tersebut, maka dibutuhkan kerjas ama dan komunikasi yang sehat antara orang tua sebagai penerima mandat, guru dan si anak. Salah satu dari bagian ini tidak berjalan, akan terjadi ketimpangan.
Gurulah yang menjadi bagian yang harus menyatakan kasih dan mengajarkan sifat dasar yang dipunyai setiap manusia, yaitu serupa dan segambar Allah. Menggantikan tempat orang tua selama jam-jam pelajaran, bukan berarti melakukan hal yang sama yang dilakukan orang tua anak di rumah, namun melakukan hal yang sesuai dengan kebenaran Alkitab dan mengacuh pada sifat dasar anak.

Penekanan Kurikulum
“Segala kebenaran adalah kebenaran Allah” menjadi acuan kita saat memandang kurikulum. Jadi, kurikulum Kristen tidak mengenal dikotomi, pemisahan antara urusan rohani dan urusan sekuler. Saat pengujian berdasar konsep epistimologi Kristen, yaitu melalui kebenaran Alkitab, ilmu pengetahuan menjadi suatu kebenaran yang tidak berada di luar kerangka metafisika Alkitab. Alkitab memberikan pola dasar bagi semua bidang Ilmu pengetahuan.               Alkitab dan kebenaran Firman bukan menjadi salah satu topik pelajaran yang diakui dalam kurikulum sekolah melainkan menjadi dasar dan konsep berpikir awal dari kurikulum tersebut.
Kurikulum Kristen bukan berarti meniadakan mata pelajaran tidak “berhubungan” dengan Alkitab atau Kurikulum Kristen bukan menyadur kurikulum sekolah non-kristen kemudian menyisipkan kebenaran-kebenaran Alkitab, melainkan kurikulum Kristen dapat memakai kurikulum apa saja yang tidak bertentangan dengan Alkitab dan digunakan dengan konsep filsafat Kristen yang benar, bukan sekedar penyisipan kebenaran saja. Tujuan dari pendidikan Kristen dan menjadikan kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut adalah keserupaan dengan Kristus.
Guru merupakan komponen utama dari kurikulum. Guru merupakan pelaku utama suatu kurikulum. Tidak mengherankan jika dipandang sebagai ujng tombak pembuatan dan pelaksannan kurikulum tersebut. Di dalam menyusun kurikulum harus berpusat pada Tuhan, namun tetap berorientasi pada siswa dan guru berperan langsung untuk mewujudkan serta melaksanakan. Guru juga harus melihat kebutuhan siswa mengajar dalam melaksanakan proses belajar.

Metodologi Mengajar
Pendidikan Kristen tidak hanya berfokus pada transfer kognitif, seperti yang diajarkan oleh pandangan-pandangan filosopi tradisional, dan tidak hanya pembelajaran berdasarkan pengalaman saja, seperti yang dipahami oleh filosopi modern. Melainkan integrasi keduanya dalam satu metode pangajaran. Metode pengajaran apapun akan terseleksi berdasarkan keefektifan mencapai tujuan utama pendidikan Kristen, yaitu restorasi gambar Allah dalam diri murid menuju kepada keserupaan dengan Kristus.
Metode pengajaran yang digunakan oleh guru Kristen hendaknya metode yang membangkitkan hasrat untuk mempelajari apa yang sedang diajarkan dan menimbulkan suatu dorongan untuk mengembangkan kearah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang labih maju, namun penguasaan dan pengembangan tersebut selalu bertujuan untuk kemuliaan Allah bukan untuk kemuliaan dan pemulian manusia.
Melayani merupakan isu utama dalam metode pengajaran Kristen, hal ini disimpulkan dari kenyataan akan tujuan dari pendidikan Kristen itu sendiri. Hati yang melayani dan membangun hubungan yang baik merupakan inti dari metode pangajaran Kristen. Allah telah memberikan contoh yang luar biasa indah dan sukses dalam mengajar, yaitu Yesus Kristus.
Sangat perlu diingat bahwa metode yang Nampak mungkin tidak akan memperlihatkan perbedaan dengan metode yang digunakan oleh orang yang tidak percaya. Perbedaannya adalah di dalam tujuan dan landasan dari metode tersebut.

Fungsi Sosial Sekolah
Sekolah secara tidak langsung akan sangat mempengaruhi terbentuknya masyarakat baru dan kebudayaan. Perubahan pemikiran merupakan salah satu tujuan pendidikan Kristen, dan akam menjadikan siswa sebagai agen perubahan didalam masyarakatnya. Sekolah Kristen memiliki peran untuk memperlengkapi dan mempersiapkan siswa-siswanya untuk pembawa pesan kebenaran Allah dalam Kristus. Karya missioner tersebut bukan berarti bekerja dalam gereja melainkan lebih luas dalam aktivitas yang dilakukan oleh murid-murid. pelayanan merupakan nilai yang sangat dasar dalam kehidupan Kristen.
Perbedaan konsep filsafat akan membuat perbedaan dalam memandang sesuatu dan bertindak. Walau tidak akan terlihat dengan jelas namun selalu ada perbedaannya. Apa yang kita percaya nyata,benar, dan bernilailah yang menentukan sikap kita, disinilah pentingnya mempunyai pemahaman yang benar tentang philosophy Kristen.
Allah adalah kenyatan yang benar-benar nyata dan benar-benar benar. Manusia diciptakan menuru gambar dan rupa Allah namun karena kejatuhan Adam, maka manusia mempunyai natur dosa. Alkitab adalah pewahyuan Allah kepada manusia dan alat uji kebenaran lainnya. Nilai etika yang universal adalah etika yang berdasarkan Alkitab.
Philosophy Kristen membawa kita kepada penerapan kurikulumdan metode pengajaran yang benar, tentunya lebih efektif untuk mencapai tujuan utama pendidikan Kristen, yaitu keserupaan dengan Kristus.

Bibliography

Brumellen, H. V. (2008). Batu Loncatan Kurikulum:Berdasarkan Alkitab. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press.
Brummelen, H. V. (2006). Berjalan dengan Tuhan di dalam Kelas, Pendekatan Kristiani untuk Pembelajaran. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press.
Hoekema, A. A. (2008). manusia: Ciptaan menurut gambar allah. surabaya : penerbit momentum.
Knight, G. R. (1998). philosophy & education, an introduction in christian perspective. berrien springs: andrews university press.
Salam, B. (2005). Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.
Situmorang, J. (2004). Filsafat dalam Terang Iman Kristen. Yogyakarta: ANDI Offset.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: