Kultur, etnisitas, dan belajar

belajar tak kenal cuaca

belajar tak kenal cuaca

Siswa-siswa dalam lingkup ruang kelas terdiri atas keberagaman budaya. Hal ini diakibatkan karena siswa-siswa tersebut sebagai pelaku pembelajaran dibesarkan dalam cara, keyakinan, bahkan bisa jadi bahasa yang berbeda pula. Menurut Slavin (2008, p.133), pada saat anak-anak memasuki sekolah, mereka telah menyerap banyak aspek budaya di tempat mereka dibesarkan, seperti bahasa, keyakinan, sikap, cara berperilaku dan pilihan makanan. Berbagai aspek budaya yang telah diserap oleh siswa mempunyai konsekuensi penting dalam proses kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Misalnya, seorang siswa yang dibesarkan dalam lingkungan yang menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar sehari-hari, pasti akan menemui kesulitan ketika harus belajar bahasa Indonesia yang serba baku. Siswa yang belum terbiasa harus perlahan-lahan menyesuaikan dirinya dan hal ini memerlukan proses yang membutuhkan pendampingan guru secara lebih intens.
Keberagaman budaya yang terdapat dalam lingkup ruang kelas juga memungkinkan timbul masalah dalam berinteraksi sosial. Menurut Grossman dalam Slavin (2008, p.133), budaya sekolah kebanyakan mencerminkan nilai-nilai kelas menengah sebagai arus utama, dan karena kebanyakan guru berasal dari latar belakang kelas menengah, siswa yang berasal dari budaya dan kelas yang berbeda sering tidak diuntungkan. Hal ini juga berpotensi menimbulkan suatu masalah yang krusial dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Guru perlu memahami latar belakang siswa karena pamahaman latar belakang siswa sangat berperan penting untuk mengajarkan bahan akademis dengan efektif maupun untuk perilaku dan harapan sekolah tersebut (Slavin, 2008, p.133).
Perbedaan kebutuhan belajar siswa yang diakibatkan karena keberagaman budaya perlu segera diakomodir oleh guru secara tepat dan benar. Metode pembelajaran yang efektif dan komprehensif dperlukan untuk menjawab kebutuhan siswa dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar guru untuk dapat menjangkau kebutuhan setiap siswa yang berasal dari latar belakangan budaya yang berbeda-beda. Macam-macam gaya belajar siswa perlu dikuasai guru sebagai dasar untuk memahami pendekatan mengajar efektif yang perlu diterapkan pada sekelompok siswa tertentu yang berada di dalam kelasnya.

PENGARUH KULTUR, ETNISITAS TERHADAP DIVERSITAS PEMBELAJAR

Pengertian
Kultur adalah pola perilaku, keyakinan dan semua produk dari kelompok orang tertentu yang diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya (Santrock, 2007, hal.170), sedangkan Edward B. Taylor mengatakan bahwa kebudayaan adalah kompleks dari keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat (Taylor dalam Liliweri, 2003, hal. 107).
Lebih lanjut Hebding dan Glick mengatakan bahwa kebudayaan dapat dilihat secara material maupun non material. Kebudayaan material dapat berupa asesoris perhiasan tangan, leher dan telinga, alat rumah tangga, pakaian, sistem komputer, desain arsitektur dan mesin otomotif, sedangkan kebudayaan non material antara lain berupa konsep norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan serta bahasa (Hebding dan Glick dalam Liliweri, 2003, hal.107). Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan hasil pemikiran yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk peralatan yang digunakan ataupun nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur pola perilaku suatu komunitas.
Kata ethnic berasal dari kata Yunani yang berarti “bangsa”, sehingga etnisitas (ethnicity) adalah pola umum karakteristik seperti warisan kultural, nasionalitas, ras, agama, dan bahasa (Santrock, 2007, hal.177).
Hubungan Kultur dan Etnisitas Dalam Pembelajaran
Perbedaan kultur dan etnis merupakan hal yang tidak dapat dihindari dalam suatu lingkungan kelas. Setiap siswa yang ada tentunya memiliki latar belakang budaya dan etnis yang berbeda, namun demikian perbedaan ini bukanlah hal yang harus memicu terjadinya diskriminasi dalam proses belajar-mengajar ataupun menimbulkan adanya kelompok-kelompok eksklusif berdasarkan kultur dan etnis siswa.
Peran guru dalam hal ini sangat besar untuk tidak terciptanya diskriminasi ataupun kelompok-kelompok tersebut. Guru harus menciptakan suasana belajar dalam kelas yang menghargai perbedaan kultur dan etnis dari setiap siswa, sehingga dapat membantu siswa-siswanya mengalami perubahan dalam pola perilaku yang menghargai perbedaan tersebut. Sebagaimana dikatakan John W. Santrock bahwa fungsi utama sekolah adalah membantu siswa untuk belajar dimana melalui proses belajar tersebut siswa mengalami perubahan dalam hal perilaku, pengetahuan dan keterampilan berpikir yang diperoleh melalui pengalaman.

Strategi Pembelajaran Efektif Dalam Diversitas Kultur dan Etnis
Berikut ini beberapa rekomendasi dari national Association for the Education of Young Children 1996 dalam Santrock (2007:183) untuk mengajar anak yang berbeda secara kultural dan bahasa:
1. Meyadari bahwa semua anak terkait secara kognitif, linguistik, dan emosional dengan bahasa dan kultural rumah mereka.
2. Mengakui bahwa anak dapat menunjukkan pengetahuan dan kapasitas mereka dalam banyak cara.
3. Memahami bahwa tanpa input yang bisa dipahami, pembelajaran bahasa kedua bisa jadi sulit.
4. Memberi contoh penggunanan bahasa inggris yang tepat dan beri anak kesempatan untuk menggunakan kosakata dan bahasa yang baru dikuasai.
5. Melibatkan orang tua dan keluarga secara aktif dalam pembelajaran anak.
6. Mengakui bahwa anak dapat dan akan bisa menggunakan bahasa inggris walaupun bahasa rumah mereka tetap dipakai dan dihormati
7. Bekerja sama dengan guru lain untuk mempelajari lebih banyak cara mengajar anak yang berbeda secara kultural dan linguistic
Strategi mengajar Pendidikan Multikultural
Berikut ini adalah rekomendasi dari pakar pendidikan multikultural James dalam Santrock (2007:193) untuk menjalankan pengajaran multikultural:
1. Waspada terhadap isi rasis dalam materi pelajaran dan interaksi dikelas.
2. Mempelajari lebih banyak tentang kelompok etnis yang berbeda-beda.
3. Peka terhadap sikap etnis murid dan jangan menerima keyakinan bahwa “anak tidak melihat perbedaan warna kulit”. Respon pandangan kultural anak secara sensitif.
4. Menggunakan buku, film, video, dan rekaman untuk menggambarkan perspektif etnis.
5. Bersikaplah peka terhadap perkembangan kebutuhan murid anda ketika anda memilih materi kultural.
6. Pandang murid secara positif terlepas dari etnis mereka.
7. Mengakui bahwa kebayakan orang tua, terlepas dari etnisitasnya, memerhatikan pendidikan anaknya dan ingin agar anaknya sukses di sekolah.

KESIMPULAN
Perbedaan budaya dan etnik merupakan hal yang tidak dapat lepas dari dunia pendidikan, terutama kita yang berada di Indonesia. Peran guru dalam hal ini sangat besar untuk tidak terciptanya diskriminasi ataupun kelompok-kelompok yang berbeda budaya dan etnik. Guru harus menciptakan suasana belajar dalam kelas yang menghargai perbedaan kultur dan etnis dari setiap siswa, sehingga dapat membantu siswa-siswanya mengalami perubahan dalam pola perilaku yang menghargai perbedaan tersebut.
Terdapat beberapa hal yang harus kita perhatikan sebagai calon guru yang kan mengajar kelas dengan murid yang berbeda budaya dan etnik.
1. Meyadari bahwa semua anak terkait secara kognitif, linguistik, dan emosional dengan bahasa dan kultural rumah mereka.
2. Melibatkan orang tua dan keluarga secara aktif dalam pembelajaran anak.
3. Waspada terhadap isi rasis dalam materi pelajaran dan interaksi dikelas.
4. Bersikaplah peka terhadap perkembangan kebutuhan murid anda ketika anda memilih materi kultural.
5. Pandang murid secara positif terlepas dari etnis mereka.
6. Mengakui bahwa kebayakan orang tua, terlepas dari etnisitasnya, memerhatikan pendidikan anaknya dan ingin agar anaknya sukses di sekolah.
Beberapa hal di atasnya diharapkan mampu mengurangi sikap diskriminasi yang dirasakan siswa, terutama dari kaum minoritas.

belajar dalam keragaman

belajar dalam keragaman

Daftar Pustaka

Liliweri, A. (2007). Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Santrock, J. W. (2007). Psikologi Pendidikan, edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
Slavin, R. E. (2008). Psikologi Pendidikan -Teori dan Praktek ( Edisi kedelapan, jilid 1). Jakarta: PT. Indeks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: