Cerita mail

Suatu hari, seseorang memutuskan untuk berlayar dengan kapal barunya yang menyenangkan. Dengan segala persiapan yang dapat dilakukan, dia akhirnya berlayar. Pelayar tersebut sangat menikmati pelayarannya, akhirnya merasa sangat nyaman dan hampir menggantungkan hidupnya pada pelayaran indah itu.
Pelayaran yang kan membawanya keseberang, ke pulau pengharapan,ke hidup yang lebih indah dan nyaman.di pulau di mana dia akan memulai suatu petualangan yang membawa jiwanya berlayar pula.
Ternyata pelayaran tersebut tidaklah seindah yang dibayangkan. Badai hebat menerjang begitu hebat pula, menghantam seluruh sisi kapal yang indah dan megah itu. Menghancurkannya tidak tanggung-tangung. Porak porandaseluruh isi kapal,kemudian hancur dan tenggelam. Bukan kerusakan kapal dan isinya yang menjadi kehancuran klimaks, bukan kehilangan kapal dan harta yang membuatnya hancur. Kehilangan cita-cita, kehilangan harapan hidup itulah yang menghancurkan hidupnya.
Keinginan untuk hidup tinggal secuil, hingga ia menemukan potongan papan bekas lambung kapal, papan bekas harapan, papan bekas dia menempatkan cita-cita, kenyamanan, dan kehidupan masa depannya. Di antara ketidaksadaran dan kesadaran yang dipunyai, dia mulai menaruh harapan itu kembali ke papan bekas harapan. Papan yang “menyelamatkan” hidupnya, memberinya kesempatan untuk meraih impian itu lagi.papan yang diandalkannya untuk membawa dia keseberang pwerwujudan cita-cita.
Menangislah ia, setelah di antara kesadaran dan ketidaksadarannya ia mendapati papan bekas harapan itu tidak membawanya kemana-mana. Membuatnya hidup dalam angan-angan belaka, hidup dalam dunia khayal, hidup seakan hidup namun mati, hidup menikmati yang tidaksesuatu yang tidak mampu dicapai dan sesuatu yang tidak ada.
Dalam keadaan diantara kesadaran dan ketidaksadaran, diantara keputusasaan dan harapan, dia mulai mengharapakan pertolongan dari sesuatu atau seseorang, bukan dari papan bekas harapan itu lagi, atau dapat dikatakan tidak sepenuhnya pada papan bekas harapan. Dia mulai berteriak : “TOLONG…..SESEORANG, SESUATU ATAU APAPUN ITU, TOLONGLAH AKU”. Tolonglah aku mencapai seberang, mencapai kehidupan yang bukan khayalan, kehidupan nyata. Dia mulai berteriak, dan berteriak lagi, sekali lagi berteriak, berharap ada seseorang, sesuatu atau apapun itu mendengar dan menolong.
Teriakan demi teriakan, tidak menghasilkan perwujudan harapan, hingga dia melihat sebuah sekoci menuju ke arahnya. Inikah perwujudan harapan ? atau sekadar bayangan dari dunia khayalan ? sebuah harapan sia-siakah ? “ulurkan tanganmu, pak ! agar kami bisa menolong anda” Kata orang dari sekoci itu.
Sekonyong-konyong keselamatan itu datang, hanya lewat kata ” ulurkan tanganmu “. harapan kembali muncul semua bayang-bayang seberang kembali melintas dalam ketidaksadaran dan kesadarannya. Tidak semudah itu, kenyamanan dan ingatan akan keselamatan yang diberikan papan bekas harapan, membuat dia tidak mengulurkan tangannya.
” Adakah yang lebih indah selain kenyamanan yang telah diberikan oleh papan bekas?” kata hati pelayar itu.
” aku tidak bisa mengkhianati papan bekas harapan ini”
Kemudian dia bertanya kepada orang yang ada di sekoci “bisakah anda mengikut sertakan papan yang telah menyelamatkanku ini ? ”
‘‘Anda tidak membutuhkan papan bekas itu’’ jawab orang sekoci itu dengan tegas. “lepaskan papan itu dan ulurkan tangan anda. Ada kapal harapan yang akan membawa anda ke seberang, ke pulau harapan dan pulau keselamatan”
“Namun papan ini telah menyelematkanku dari karam kapal, papan ini adalah bekas dari lambung kapal yang telah memberikan aku harapan”
“Lepaskanlah papan itu dan capailah seberang bersamaku dengan kapal harapanku”
Sang pelayar akhirnya bertanya lagi:“apa yang anda dapat janjikan kepadaku, kalau aku naik ke kapal harapanmu itu?”
“aku tidak menjanjikan pelayaran tanpa badai, yang kujanjikan adalah aku akan ada bersama-sama denganmu mengahadapi badai itu”
“aku tidak menjanjikan berlayar tanpa kendala, tapi aku janjikan tiba di pulau harapan”
Sang pelayar masih terus berpikir tentang papan harapan “bolehkah aku membawa papan bekas harapan ini?”
“kalau kau ingin naik ke kapalku, makanya anda harus melepaskan papan bekas harapan itu”
Maka sang pelayar akhirnya melepas papan bekas harapan itu, dan mengulurkan tangan kepada sang harapan.

cerita tidak selesai dan tidak tahu kapan menyesaikannya
cerita disadur dari cerita khotbah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: