Filsafat pendidikan

Dalam memahami pendidikan Kristen saya menggunakan tiga dimensi panggilan umat Allah yang dikemukan oleh Wolterstorff ; pertama, panggilan untuk memberitakan injil. Kedua, panggilan untuk bekerja demi damai sejahtera (shalom) dan demi pembebasan dari segala sesuatu yang menindas dan menekan. Ketiga, panggilan untuk menyaksikan damai sejahtera dalam kehidupan (Wolterstorff, 2007, 49).
Pendidikan pada dasarnya adalah beban orang tua atau keluarga bagi setia anggota keluarga yang ada didalamnya, kemudian beranjak,tapi tidak mengalihkan dari keluarga, menjadi tanggung jawab masayarakat. Manusia sebagaimana disaksikan Alkitab adalah gambar dan rupa Allah, dan gambaran ini telah rusak oleh kejatuhan manusia. Penting untuk dicatat bahwa meskipun ketika gambar dan rupa itu telah retak dan sangat menyimpang, ia belum hancur (Knight, 2009, 248).
Mengembalikan gambaran Allah dalam diri tiap anak adalah peranan tiap orang tua. Alkitab berulang kali mengingatkan bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memberikan pembinaan untuk mempersiapkan anak-anak mereka mempunyai kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, seperti yang terdapat dalam Ulangan 6:4-7, Amsal 1:8, Kolose 3:16.
Pengenalan sifat dasar seorang anak atau murid akan berpengaruh besar kepada cara seorang guru memandang murid dan cara dia bekerja dalam kelas, belajar dan memandang hasil pembelajaran. Alkitab tidak memberikan perintah khusus berkenaan dengan peran guru dan sekolah, karena itu guru hanya menggantikan tempat orang tua orang tua selama jam-jam sekolah (in loco Parentis).
Karya Kristus adalah rekonsiliasi, mengembalikan gambar dan rupa yang telah rusak ini. Pendidikan merupakan salah satu jalan Allah untuk mengenalkan Kristus yang mengembalikan gambaran rupa Allah dalam setiap orang yang terlibat dalam pendidikan. Inilah alasan panggilan untuk memberitakan Injil.
Umat Alah dipanggil untuk berupaya agar manusia dapat hidup selaras dengan dirinya sendiri, sesama, alam, dan terutama dengan Allah (Knight, 2009, 53). Pendidikan adalah salah satu upaya penyelarasan yang dimaksud di atas. Kebodohan, kemiskinan adalah belenggu yang harus diupayakan sehingga dapat terbebas darinya. Pendidikanlah yang akan berperan penting di persiapan, pelaksanaan dan pasca pembebasan belenggu-belenggu.
Pendidikan tidak diartikan juga penyeragaman budaya, yang akhirnya merujuk kepada tradisi, kebiasaan, perilaku, pola pandang budaya tertentu. Penyeragaman budaya menurut saya adalah penyimpangan dari pendidikan itu sendiri.
Bagian ketiga dari dimensi panggilan umat manusia, saya artikan sebagai implementasi dari hasil pendidikan yang sudah dan sedang berlangsung. Menyaksikan keselarasan dan damai sejahtera adalah tujuannya, implementasi ilmu pengetahuan adalah penyertaan dari tujuan utama tersebut. Lebih lugas saya katakana bahwa tujuan ketiga pendidikan adalah untuk membentuk karakter dari dampak keimanan yang diimplementasikan dalam kehidupan.

Referensi
Brumellen, Harro Van. Batu Loncatan Kurikulum:Berdasarkan Alkitab. Jakarta: Universitas Pelita Harapan Press, 2008.
Wolterstorff, Nicholas P. Mendidik Untuk Kehidupan : Refleksi Mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen. Jakarta: Penerbit Momentum, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: