quo Vadis?

Quo Vadis Pendidikan Indonesia?

Pertanyaan ini terus menggelitik kepala saya sejak saya mulai bergelut Gambardalam dunia pendidikan. Ada beberapa alasan pertanyaan tersebut mengikuti saya hampir setiap hari, pada saat mengajar maupun pada saat sedang mempersiapkan pembelajaran bahkan pada saat hendak beristirahat malam. Alasan yang pertama, pertanyaan tersebut merupakan tema dari sebuah seminar pendidikan yang saya hadiri pertama kali sejak saya melanjutkan kuliah di Jakarta. Dr. Steven Tong pembicara tunggal diseminar tersebut. Jangan tanya apa isi seminar tersebut karena saya benar-benar tidak memperhatikan seminar tersebut. Alasan kedua, karena keunikan kata QUO VADIS tersebut. Dua kata yang saya tidak mengerti terjemahan secara khusus, namun sering digunakan untuk mempertanyakan tujuan sesuatu, baik kegiatan atau hubungan.
Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan dan terus dikembangkan para ahli pendidikan kita? Apa sebenarnya yang kurnag dari pendidikan kita di Indonesia? Bukankah nilai UN sudah sangat tinggi? Bukankah sekolah-sekolah bahkan kementerian pendidikan daerah mampu meluluskan 100% siswanya? Kecuali mungkin jika ada siswi yang hamil sebelum Ujian Nasional dan dilarang ikut UN. Beberapa orang/pihak mempertanyakan tujuan UN yang sebenarnya, bahkan ada yang menganggap UN hanyalah dagelan pihak-pihak tertentu. Toh, kita masih butuh UN untuk standarisasi pencapaian sekolah. Jika untuk lulus standarisasi saja masih ada manipulasi, bisa kita bayangkan jika tidak ada standarisasi.
Apalagi yang kita pusingkan dengan pencapaian siswa di sekolah-sekolah, toh nilai raport siswa-siswa kita rata-rata di atas 75. Sengaja atau tidak nilai 75 di raport akan membantu siswa untuk lulus, jika nilai UN mereka kecil. Pernahkah kita mendapati orang tua yang protes jika anaknya memperoleh nilai matematika 80 atau 90 di raport, sedangkan untuk siswa SMA menghitung 3×4 saja dibutuhkan waktu 30 menit? Kurikulum apalagi yang kita butuhkan, bukankah tiap tahun 100% siswa kita naik kelas, walaupun sudah kelas 6 SD belum bisa membaca? Toh, tidak ada orang tua atau pegawai Kementrian Pendidikan yang diwakili pengawas yang protes.
Kenapa para guru jadi risau ada siswa yang datang sekolah tidak mandi atau sarapan? Orang tua mereka saja tidak peduli. Kenapa guru repot-repot menuntaskan pembelajaran di kelas? Anak-anak yang seharusnya tidak naik kelaskan punya cara untuk naik kelas, yaitu pindah sekolah. ancaman pindah sekolah adalah senjata yang betul-betul ampuh untuk menakuti kepala sekolah yang takut kehilanga siswa, yang artinya kehilangan beberapa ratus ribu rupiah dari dana BOS. Kenapa guru perlu memberi pelajaran tambahan atau after school untuk siswa yang secara akademik kurang mampu? Bukankah prestasi seorang guru dan sekiolah ditentukan oleh beberapa anak yang mampu menjuarai olimpiade sains atau olimpiade matematika. Kenapa guru jadi sibuk “ceramah” tentang hal yang baik dan tidak baik? Bukankah alumni yang jadi koruptor besar bahkan jadi teroris masih bisa dibangga-banggakan.
Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Jika yang memperkenalkan kurikulum anti korupsi adalah koruptor kelasa kakap? Jika kita lebih mengutamakan penampilan dibandingkan anak mampu mencapai tujuan belajar? Jika kita masih sering meninggalkan kelas untuk bergosip, sedang anak-anak tidak terkontrol? Jika kita mengharapkan siswa tepat waktu sedangkan kita sendiri yang tidak bisa tepat waktu?
Omong kosong yang saya tuliskan di atas membuat saya ketakutan, apakah kita memang mempunyai tujuan pendidikan yang kira-kira bisa membawa perubahan? Atau kenyataan yang ada sekarang adalah capaian tertinggi dari pendidikan kita?
Mari kita evaluasi diri kita, baik kita sebagai pemerintah, orang tua, guru, kepala sekolah, pemerhati pendidikan dan kita tetapkan tujuan pendidikan kita. Dan kita berubah kepada tujuan tersebut, bukan lagi berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang pada kenyataannya tidak membawa kita kemana-mana. Pendidikan merupakan perubahan secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan manusia, bukan hanya pada penampilan. Perubahan terjadi juga pada tatanan dan kebudayaan yang akan tercipta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: